Radelas Sava Rosa

Berteman adalah wujud jika seseorang berusaha survive dari lingkungan sosial. Sebab, dengan berteman maka orang tersebut akan menjalin hubungan dengan individu lain.

Seperti yang dikatakan oleh Aristoteles bahwa manusia adalah zoon politicon yang artinya manusia adalah makhluk sosial. Namun, dalam memulai pertemanan tentunya dibutuhkan filter untuk mengetahui teman seperti apa yang layak dan tidak untuk dipertahankan.

Seperti yang kita tahu tidak semua orang memberikan influence yang baik bagi perkembangan seseorang begitu pula dengan menjalin pertemanan. Maka, pertemanan yang tidak sehat dapat
disebut dengan toxic friendship yakni hubungan pertemanan yang tidak sehat dan lebih sering membawa pengaruh buruk.

Apakah kamu merasa circle pertemananmu tidak baik? Please,
beware dengan pertemanan yang dirasa sudah tidak baik untuk dirimu sendiri. Karena toxic friendship mampu mempengaruhi pola pikir dan berdampak pada bagaimana individu tersebut menangani problem yang sedang dihadapi.

Memang benar jika menjalin pertemanan
terasa menyenangkan namun jangan sampai lupa hingga memberikan dampak negatif untuk kehidupanmu kedepannya.
Pada dasarnya memiliki teman banyak artinya kita memiliki relasi yang banyak pula.

Tetapi melakukan cross check dalam pertemanan harus tetap dilakukan ya! Bahkan teman yang toxic tidak hanya dalam lingkup dunia anak-anak dan remaja tetapi juga di dunia kerja.

BACA JUGA:   Mengejar Pajak Orang Kaya: Sudah Siapkah Indonesia?

Maka ada baiknya jika mengurangi intensitas pertemuan dengan seseorang yang dirasa sudah tidak memiliki value dan terkesan merugikan. Jadi, antara sisi baik dan buruk tampak samar keberadaannya karena sikap toxic dari orang tersebut. Kadang kala memberikan nasihat dan
dukungan namun jika ditafsirkan terasa seperti lebih berupa hinaan dan cemoohan yang merendahkan. Maka, penting untuk mengetahui red flag dalam sebuah pertemanan agar tidak
perlu “nyemplung” dalam circle yang hanya memanipulasi perasaanmu.

Ketika terjebak dalam hubungan toxic friendship kadang hanya disalahkan,
direndahkan, dihina, dan tidak mendapatkan dukungan dari teman. Tentunya hubungan yang terjalin seperti ini dalam pertemanan tidak layak untuk dipertahankan. Seharusnya seorang
teman yang baik memberikan dukungan, selalu berada di sekitar kita dalam situasi apapun, memberi dan menerima, serta menjadi pendengar yang baik.

Benar, jika kita dalam hubungan
pertemanan yang baik tetapi jika dalam toxic friendship hal tersebut hanya berbentuk fatamorgana yang sulit untuk terealisasikan. Sehingga adanya hubungan pertemanan yang buruk mampu merusak mental seseorang karena ibarat menerima racun dengan tangan terbuka. Jadi, bersikap selektif sangat penting dalam memilih teman dan menjalin pertemanan. Melihat tidak ada hal positif yang dapat dipertahankan dalam toxic friendship
maka perlu untuk mengetahui do and don’t dalam menjalin pertemanan. So, yuk kita bahas red flag apa saja yang tidak baik untuk didekati ataupun dicoba ketika hendak menjalin pertemanan.

BACA JUGA:   Masa Depan Polri PRESISI dan Hak Asasi Manusia

1. Bermuka dua

Teman toxic akan bersikap berlawanan ketika berada didekatmu dan saat bertemu
dengan orang lain. Sikapnya seperti pick me girl or boy yang merasa paling berbeda dan innocent. Selain itu, tanpa disadari akan mengumbar aib orang-orang yang menjalin relasi dengannya. Bahkan kamu bisa saja menjadi salah satu bagian “orang” tersebut. Secara
sengaja kadang toxic friendship menjadikan bahan candaan atas kesulitan yang dirasakan. Kadang kala sebagai teman kita ingin curhat dan meminta pendapat tetapi tidak ditanggapi
dengan serius. Tidak menutup kemungkinan juga dijadikan dark jokes dalam pertemanan yang menyebabkan semakin rendah self esteem dalam diri sendiri.

2. Penyebar gosip

Teman yang toxic senang bergosip dan menyebarkan kabar burung yang belum tentu benar keasliannya. Hal ini diperparah dengan menjadikan siapa saja sebagai objek perbincangan. Gosip sekali dua kali mungkin dapat dimaklumi dalam lingkup pertemanan. Tetapi jika gosip intensitasnya sudah tidak wajar dan tidak masuk akal maka perlu untuk dicurigai. So, beware dengan lingkungan pertemananmu ya! Bisa saja kamu menjadi objek bahan gosip.

BACA JUGA:   Impact of Bullying: Bully Masih Marak di Perguruan Tinggi

3. Membuat tidak nyaman

Ketika merasa tidak nyaman dan ketakutan dalam lingkungan pertemananmu maka
perlu bersikap waspada karena kamu berada dalam circle toxic friendship. Situasi tersebut bisa terjadi ketika mendapatkan pengalaman buruk dan perilaku yang menjengkelkan sehingga perlu untuk dijauhi. Jika kamu saat ini berada dalam situasi ini, run bestie run!
Secepat mungkin jangan pernah kembali ke pertemuan-pertemuan tersebut.

4. Mencoba merubah dan manipulatif

Beruntung dalam sebuah pertemanan adalah mendapatkan teman yang sefrekuensi artinya kamu mendapatkan teman yang tulus. Tetapi setelah menjalin pertemanan yang cukup lama dan lambat laun merasa temanmu mulai mengatur dan merubahmu dalam sosok yang berbeda maka perlu untuk waspada. Bisa saja temanmu menjadi orang yang otoriter dan
bersikap playing victim agar kamu mau menurutinya. Sehingga muncul rasa bersalah dalam dirimu dan perlahan mengikuti kemaunnya. Maka hati-hati jika berada dalam situasi tersebut
dan secepatnya menjauh dari pertemanan itu.

Penulis : Radelas Sava Rosa
Mahasiswi Prodi Akutansi Universitas Muhammadiyah Malang