Radela Sava Rosa, foto: dok pribadi

Nampaknya kata “bully” sudah tidak asing lagi bagi seluruh kalangan di Indonesia. Bahkan bully sendiri tidak memandang usia yang tentunya memberikan rasa traumatis terhadap korbannya. Sebelum membahas bullying lebih lanjut, yuk kenali terlebih dahulu apa itu bullying. Bullying adalah perilaku disengaja serta agresif terhadap korban yang dilakukan secara konsisten dan terus menerus bisa juga disebut perilaku yang ditujukan untuk menyakiti seseorang baik secara fisik ataupun mental. Mengerikan bukan?

Bullying sendiri akan menyebabkan korban mengalami penurunan rasa percaya diri, perasaan bersalah, frustasi, depresi, sulit percaya kepada orang lain, dan masih banyak lagi. Tindakan bullying pada dasarnya bermacam-macam, tidak hanya secara fisik namun juga secara verbal dan sosial. Bullying fisik tentunya bisa melukai tubuh seseorang, memukul, menendang, memalak, mencubit, sampai dengan sengaja mengambil barang orang lain. Sedangkan bullying verbal bisa berupa mengatakan atau menulis sesuatu yang menyakiti korban lalu bullying sosial dilakukan dengan mempermalukan korban di hadapan publik hingga menyebarkan gosip terkait korban.

Bullying akan memberikan dampak berkepanjangan bagi korbannya bahkan bisa mempengaruhi masa depannya sebagai individu seperti berkeinginan untuk mengakhiri hidup. Di era yang serba digital ini tentunya sudah tidak asing lagi kasus-kasus bullying yang terjadi di Indonesia. Bahkan ketika membacanya kamu akan merasa miris dan menyayangkan mengapa tindakan tersebut bisa terjadi. Kasus bullying yang terjadi akhir-akhir ini adalah bullying yang dilakukan oleh siswa Sekolah Dasar di Jepara. Mirisnya, bullying dilakukan oleh anak di bawah umur yang seharusnya masa-masa sekolah dasar dilakukan untuk bermain dan mengenal lingkungan tetapi yang terjadi adalah perundungan. Lalu bagaimana dengan bullying di perguruan tinggi?

Meskipun jenjang perguruan tinggi dianggap sebagai mahasiswa yang terdidik namun kasus bullying tidak pernah surut lho! Bukankah terlihat menyedihkan ketika bullying tetap terjadi di ruang lingkup akademisi. Dapat dikatakan bullying di kalangan mahasiswa lebih kejam daripada bullying saat di SD hingga SMA. Bullying di perguruan tinggi dilakukan secara berkelompok disebut juga dalam sebuah “geng” dimana menargetkan seseorang yang dianggap mudah untuk di-bully. Mayoritas korban bullying di perguruan tinggi adalah laki-laki yang sekiranya tidak memiliki previlege ataupun dilakukan karena merasa iri. Bentuk pembullyan pada mahasiswa laki-laki biasanya penindasan, ejekan secara terus menerus, dan perpeloncoan sehingga menyebabkan mahasiswa takut dan tidak aktif dalam kegiatan kampus. Tetapi tidak menutup kemungkinan korban bullying adalah mahasiswa perempuan juga bahkan bisa dianggap lebih kejam kekerasannya. Biasanya bullying pada perempuan dalam bentuk intimidasi, pelecehan seksual, dan pemalakan yang sangat berdampak pada psikologis korban sebab mampu menimbulkan rasa cemas dan takut untuk beraktivitas di kampus.

Seharusnya bullying di perguruan tinggi tidak pernah terjadi mengingat rata-rata usia yang lebih matang dan dewasa. Selain itu di perguruan tinggi adalah tahap untuk menjadi lebih baik dengan pola pikir yang lebih dewasa. Dapat dikatakan tidak ideal apabila sesama mahasiswa melakukan aksi bullying. Seharusnya mahasiswa lebih meningkatkan relasi dengan mahasiswa lain untuk menata masa depan dan open minded.

Nah, dari pembahasan di atas terkait apa saja dampak dan akibat bullying di perguruan tinggi yang masih kerap terjadi? Mari kita bahas satu persatu!
Dampak bullying dapat dirasakan pada jangka waktu yang tidak terlalu lama, apalagi jika tindakan pembullyan sangat membekas bagi korban. Adapun dampak bullying dalam jangka pendek antara lain:

Masalah psikologis

Korban bully akan mengalami gangguan psikologis, baik pada saat terjadi pembullyan, maupun setelah bullying berakhir. Kondisi psikologis yang kerap muncul pada korban bullying adalah depresi dan gangguan kecemasan. Hal ini memberikan efek bully yang menyebabkan gejala psikologis yang memicu gangguan pada kesehatan fisik. Di kalangan mahasiswa tentunya masalah psikologis yang dihadapi sangat rentan untuk korban bullying dimana selalu berfikir tentang hal-hal negatif salah satunya yakni ingin mengakhiri hidup.

Gangguan tidur

Salah satu dampak bullying yang dapat dirasakan secara jelas oleh korban bully adalah mengalami gangguan tidur. Korban bullying akan sulit untuk mendapatkan tidur yang nyenyak dan berkualitas. Bahkan ketika sudah tertidur jangka waktunya cukup pendek karena disertai dengan mimpi buruk.

Pikiran untuk bunuh diri

Munculnya pemikiran untuk mengakhiri hidup adalah salah satu dampak bullying yang kerap dirasakan oleh orang dewasa begitu pula dengan mahasiswa. Tidak jarang pula terdapat mahasiswa yang melakukan percobaan bunuh diri. Namun terdapat pula korban bullying yang benar-benar mengakhiri hidupnya karena merasa sudah tidak sanggup menghadapinya.
Mengasingkan diri dari lingkungan
Baik orang dewasa ketika menjadi korban bullying maka secara tidak langsung akan menghindari tempat-tempat yang ramai. Hal ini karena anggapan jika korban bullying merasa status sosialnya lebih rendah. Maka dari itu korban bullying mengasingkan diri yang menyebabkan timbul rasa kesepian, terabaikan, dan menurunnya rasa percaya diri.

Gangguan prestasi

Ketika menjadi korban bullying secara bertahap mahasiswa akan mengalami penurunan prestasi karena kesulitan dalam memahami materi. Selain itu korban bullying akan kesulitan konsentrasi saat belajar di dalam kelas sehingga sering absen dan pasif dengan kegiatan kampus.
Selain memberikan dampak jangka pendek, bullying juga memberikan dampak jangka panjang, diantaranya:

Kondisi kesehatan korban bully di masa tua yang kemungkinan akan lebih buruk, dari segi psikis dan fisik. Fungsi kognitif korban bully akan lebih rendah dibandingkan orang lain yang tidak pernah mendapat perlakuan pembullyan.

Kualitas hidup dari korban bully akan lebih rendah dibandingkan orang lain yang tidak pernah mendapat perlakuan pembullyan.
Sulitnya mencapai kepuasan hidup akan dirasakan oleh korban bully.

Ketika seseorang menjadi korban bully maka terdapat perubahan-perubahan pada individu tersebut. Dari perubahan ini sebagai orang terdekat kita sebaiknya menyadari dan memberikan dukungan bahkan space untuk menceritakan kesulitannya. Perubahan yang tampak ketika menjadi korban bullying adalah:
Nafsu makan berkurang
Menghindari sosialisasi dengan orang lain atau teman.

Kehilangan berat badan

Kualitas tidur menjadi lebih rendah.
Terlihat murung dan stress setelah melihat isi ponselnya.  Terdapat luka di anggota badan. Dampak bully terasa oleh korban pada saat itu juga, hingga berpuluh-puluh tahun setelah mengalaminya. Sehingga perlu diambil berbagai langkah yang baik sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas hidup. Selain itu perguruan tinggi lebih meningkatkan peraturan agar tidak ada lagi kasus bullying di ruang akademisi yang mayoritas merugikan korban bullying.

Penulis : Radela Sava Rosa

Mahasiswi Prodi Akutansi,

Universitas Muhammadiyah Malang