Menelusuri Jaringan Mafia Tekstil di Batam

Pabrik tekstil milik PT PGP di Kota Batam. Foto : nio/BI

Bataminfo.co.id, Batam – Wilayah Kota Batam yang berbatasan langsung dengan beberapa negara menjadi sasaran empuk masuknya barang-barang ilegal, termasuk tekstil, yang diduga masuk melalui berbagai wilayah pelabuhan dan bermarkas di kota ini.

Bataminfo mencoba menelusuri jaringan mafia tekstil tersebut yang menyeret nama sejumlah pejabat tinggi Bea Cukai Batam dalam dugaan Korupsi (Tipikor) Penyalahgunaan Kewenangan Dalam Importasi Tekstil pada Direktorat Jendral (Dirjen) Bea dan Cukai Tahun 2018 s/d 2020. Tulisan tentang mafia tekstil akan dikemas berseri mulai hari ini.

Pada Rabu, 27 Mei 2020 siang, Bataminfo mencoba mendatangi PT Peter Garmindo Prima (PGP) yang berlokasi di Komplek MCP Blok B1 Nomor 14, Batu Ampar. Berbekal informasi yang didapat melalui hasil penlusuran di situs resmi di Ditjen AHU online.

Kedatangan tim berusaha untuk menggali jejak Irianto, selaku pemilik PT PGP dan PT Flemings Indo Batam. Dua perusahaan itu ditenggarai sudah mengimportasi 537 kontainer bermuatan tekstil ilegal masuk ke Indonesia melalui Kota Batam.

Suasana langit kala itu sedang cerah, aktifitas kehidupan di kawasan pun tampak mulai berdenyut kembali setelah tiga hari penuh merayakan Idul Fitri di rumah saja. Setibanya di lokasi, Bataminfo mendapati pabrik tekstil yang berada di tengah kawasan itu berdiri tanpa plang nama dalam keadaan sepi dengan pintu mengganga.

Karena di halamannya beberapa kendaraan bermotor terparkir. Bataminfo berusaha masuk ke dalam, empunya perusahaan bernama Agni selaku penanggungjawab PT PGP, sedang berbaring di atas tumpukan bahan baku tekstil pun lantas kaget dan langsung mengangkat badannya. Agni mengatakan kalau Irianto sedang berada di Jakarta.

“Iya benar ini PT PGP, kalau soal Pak Irianto sudah lama tak kesini, beliau sedang di Jakarta,” kata Agni, sembari menjelaskan pabrik sepi karena telah masuk jam istirahat.

BACA JUGA:   Resmi Nahkodai Perwara Kota Batam, Sya'ban Al Buchari Janji Prioritaskan Kebersamaan

Tanpa perlu ditanyakan ataupun dijelaskan maksud kedatangan tim, Agni langsung mengatakan tidak tahu menahu soal Irianto yang sedang ditahan DJBC karena kasus importasi tekstil ilegal tersebut.

“Kami tidak tahu apa-apa, kita tahu masalahnya lewat berita saja. Karena aktifitas beliau tidak lewat sini. Dia (Iranto) cuma sewa tempat,” kata Agni, cekatan sambil menununjuk gudang sebelah pabrik yang terkunci rapat dengan gembok.

Kata dia, lokasi yang terkunci itu adalah kantor Irianto. Disanalah sebutnya Irianto berkantor. Dia biasanya datang ke lokasi tak pernah sendiri, melainkan bersama seorang wanita paruh baya yang disebut Agni, akrab dipanggil dengan nama Miss Mey, Warga Negara Singapura.

“Kalau datang itu biasanya sama Miss Mey, hubungannya tidak tahu bagaimana, mereka sepertinya kerjasama,” kata dia.

Agni menjelaskan, PT Peter Garmindo Prima sudah berdiri sejak tahun 2000-an. Pemiliknya bernama Peter, Warga Negara Singapura. Awalnya, perusahaan yang bergerak di bidang konveksi ini berlokasi di Komplek Industri Citra Buana I, Seraya, Batu Ampar. Mereka mengerjakan orderan seragam dari Singapura dan negara lainnya.

“Pak Peter di Singapura sudah lama juga tidak ke Batam, kan masih lockdown. Dulu tahun 2004-2005 kalau di Seraya karyawan kita 500. Soalnya kan ekspor. Tapi lama-lama orderan menurun dan jumlah karyawan sedikit. Makanya kami pindah ke sini. Gedung ini punya Pak Irianto. Dan sekarang kami hanya mengerjakan orderan dari Singapura saja,” katanya.

Lanjut dia, kira-kira setahun lalu, Peter selaku pemilik perusahaan berencana menutup perusahaan tersebut. Namun, keputusan itu dilarang oleh Irianto.

“Pak Irianto bilang, ‘Jangan tutuplah, sayang’. Trus dia bilang, biar dia aja yang beli perusahaan ini. Akhirnya, perusahaan ini dibeli Pak Irianto, saham terbesarnya Pak Irianto. Tapi Pak Peter juga masih punya saham di sini,” terang Agni.

Meskipun Irianto pemilik saham terbesar, namun segala aktifitas dan orderan konveksi berada di tangan Peter. Bahkan, pengurusan gaji karyawan juga menjadi tanggungjawab Peter.

BACA JUGA:   Tendang Sesama Pengendara Sepeda Motor, Aksi Anak Muda di Batam ini Viral di Medsos

“Kami nggak pernah berurusan dengan Pak Irianto. Semua sama Pak Peter. Gaji juga Pak Peter yang bayar. Pak Irianto itu ke sini sekali-kali aja. Paling ngecek aja atau nanya ada surat yang datang apa nggak, cuma gitu aja,” ujar Agni.

Agni mengaku sudah lama tidak bertemu Irianto. Terakhir kali, Irianto datang ke lokasi April lalu. Tanggal pastinya, dia lupa. Setelah itu, ia tak pernah melihat Irianto lagi hingga saat ini.

“Komunikasi juga tidak pernah. Saya juga tidak punya nomornya. Terakhir kali datang cuma nanya ada surat apa nggak aja. Habis itu pergi lagi,” kata Agni.

Saat disinggung terkait PT Flemings Indo Batam, Agni mengaku bahwa perusahaan itu juga milik Irianto. Dulu, perusahaan itu berada di sebelah lokasi PT Peter Garmindo Prima saat ini. Perusahaan ini diketahui Agni bergerak dalam pembuatan seragam sekolah.

“Di gudang ini juga masih ada baju-baju sekolah yang disimpan. Tapi ini sudah lama tutup. Gedung ini kan punya dia juga,” ujar Ani sembari menunjuk ke gedung yang berada di sebelah tempatnya bekerja.

Agni menjelaskan, baru-baru ini ia sempat bertemu dengan seorang pria yang diketahui bernama Heri. Ia disebut-sebut sebagai orang kepercayaan Irianto. Kala itu, Heri datang untuk memperbaiki atap teras gedung yang sudah rusak.

“Katanya sih orangnya Pak Irianto. Kemarin dia ke sini cuma untuk perbaiki ini saja,” ujar Agni sembari menunjuk ke arah atap spandek yang masih tampak seperti baru.

Terpisah, Dewi Ratna alias DR yang sebelumnya disebut sebagai mafia tekstil dalam kasus importasi 27 kontainer tekstil, mengaku tahu dengan nama Heri yang disebut sebagai orang kepercayaan Irianto itu. Beberapa bulan lalu kata dia, Heri pernah datang ke kantornya yang berlokasi di Komplek Union, Batu Ampar.

BACA JUGA:   Terjatuh Dari Lantai Empat, Seorang Nenek di Batam Tewas Ditempat

“Pernah datang beberapa bulan lalu, saya pun kaget dia datang, minta dokumen impor tekstilnya si Irianto. Saya kasihkan saja semua,” kata Dewi, merupakan Direktur PT Anugerah Berkah Shabilla, Perusahaan Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK) di Batam.

Dewi menjelaskan, ada satu nama lagi merupakan orang kepercayaan Irianto dilapangan berinisial R. Dia merupakan sosok yang mengurusi semua dokumen kapabenan Irianto ke Bea Cukai Batam, sekaligus ke PPJK-nya. Sementara denga Irianto, dia tidak terlau kenal.

“Saya tidak terlalu kenal (Irianto). Paling selama kenal, jumpa sama dia saja cuma 3 kali. Apalagi komunikasi lewat telepon. Memang dia ini importirnya, tapi kalau sama orang kepercayaannya, memang sering kesini, saya tahu sekarang dia sudah ada di Jawa,” ujar Dewi.

Sebelumnya, Direktur Penyidikan pada Direktorat Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung RI, pada hari Senin tanggal 27 April 2020 telah menerbitkan Surat Perintah Penyidikan Nomor : Print-22/F.2/Fd,2/04/2020 guna melakukan penyidikan Perkara dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Penyalahgunaan Kewenangan Dalam Importasi Tekstil pada Direktorat Jendral (Dirjen) Bea dan Cukai Tahun 2018 sampai 2020.

Dugaan adanya tindak pidana korupsi dalam proses import tekstil tersebut berawal dari upaya penegahan yang dilakukan oleh Bidang Penindakan dan Penyidikan Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tanjung Priok yang mendapati 27 kontainer milik PT Flemings Indo Batam (FIB) dan PT Peter Garmindo Prima (PGP) pada 2 Maret 2020 lalu.

Pada saat itu, didapati ketidaksesuaian mengenai jumlah dan jenis barang antara dokumen PPFTZ-01 Keluar dengan isi muatan usai dilakukan pemeriksaan fisik barang oleh Bidang Penindakan dan Penyidikan KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok. (nio)